6 Perempuan Minang Inilah Pemrakarsa Polwan Indonesia

4819

Sejarah berdirinya Polisi Wanita (Polwan) di Indonesia tak lepas dari peristiwa Agresi Militer Belanda ke-2 tahun 1948. Waktu itu, Pusat Pemerintahan Republik Indonesia yang dialihkan ke Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, sedang dipusingkan dengan pengungsian besar-besaran akibat agresi.

Tentu pengungsian besar-besaran itu menjadikan para penyusup berpeluang untuk memasuki wilayah yang telah dikuasai Indonesia. Maka, polisi (pria) memperketat penjagaan dengan menggeledah identitas tiap pengungsi. Namun, pengungsi perempuan rupanya enggan digeledah oleh polisi-polisi pria.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Indonesia menunjuk Sekolah Polisi Negara Bukittinggi untuk membuka Pendidikan Inspektur Polisi khusus perempuan. Setelah melalui seleksi yang panjang, terpilihlah enam perempuan Minangkabau yang akan dilatih menjadi polisi yang sekaligus menjadi Polwan pertama di Indonesia.

Mereka adalah Mariana Saanin Mufti, Nelly Pauna Situmorang, Rosmalina Pramono, Dahniar Sukotjo, Djasmainar Husein, dan Rosnalia Taher. Keenam perempuan yang masih remaja itu resmi mengikuti pelatihan pada 1 September 1948–yang sekaligus menjadi penanda lahirnya Korps Polisi Wanita atau yang dikenal Polwan.

Seiring berkembangnya zaman, rupanya peran Polwan sangat dibutuhkan. Kasus-kaus kejahatan banyak yang melibatkan wanita dan anak-anak baik sebagai korban maupun pelaku. Tugas Polwan pada awalnya hanya membantu pada penanganan dan penyidikan kasus kejahatan yang melibatkan wanita dan anak saja.

Selengkapnya…Klik Next >>>

1
2
3
4
5
6
SHARE