Gemuruh Kuda Sandelwood di Pulau Sumba

29

EFEKGILA.COMRinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh, sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua dan bola api, merah padam membenam di ufuk teduh.

Demikianlah sepenggal puisi karya Taufik Ismail seorang penyair serta sastrawan Indonesia yang sangat mencintai pulau Sumba yang mempunyai keunikan akan kuda Sandelwood-nya.

Masyarakat di daratan pulau Sumba kehidupannya tidak pernah terlepas dari kuda. Kuda yang berada di Sumba adalah kuda jenis Sandelwood yang hanya berada di pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Kuda Sandel atau lebih lengkapnya Sandalwood pony adalah kuda pacu asli Indonesia yang hidup di pulau Sumba.

Parade kuda Sandelwood (Foto: tribunnews)
Parade kuda Sandelwood (Foto: tribunnews)

Nama Kuda Sandelwood sendiri dikaitkan dengan kayu Cendana yang pada zaman dahulu merupakan komoditas unggulan masyarakat NTT khususnya di pulau Sumba untuk di ekspor ke sejumlah daerah lainnya di Indonesia.

Kuda bagi masyarakat Sumba mempunyai peranan besar dalam seluruh siklus kehidupan masyarakat di daerah itu, baik itu sejak lahir hingga meninggal dunia.

Budayawan dari Sumba Pater Robert Ramone CSsR mengatakan jika dilihat dari kebutuhan khususnya dalam bidang transportasi, kuda sering digunakan atau dimanfaatkan untuk mengantar berbagai hasil pertanian untuk dijual di pasar atau di perkotaan.

“Masyarakat tradisional di pedesaan sering menggunakan kuda untuk moda transportasi jika memang di daerah pedesaan tidak ada kendaraan umum yang melintas,” katanya.

Di samping itu, menurut pria pendiri dan pengelola rumah budaya Sumba ini, dalam hal pernikahan kuda menjadi mahar atau mas kawin yang dibayarkan oleh pihak pria kepada pihak wanita. Kuda juga disimbolkan sebagai yang perkasa dan tangguh.

Oleh karena itu, tidak heran jika banyak orang-orang Sumba khususnya para raja di daerah itu selalu mempunyai kuda karena menunjukkan ketangguhan dan kewibawaan mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Gambar kuda sering ditemukan sejumlah tenun ikat Sumba, bahkan kuburan orang yang sudah meninggal juga dilukis dan dibuatkan sebuah patung kuda yang di atasnya ditunggangi oleh pemiliknya sambil membawa tombak.

Keadaan alam Sumba yang tandus dan kering menempa sikap hidup masyarakat Sumba yang terkenal dengan keberanian dan ketangguhannya dalam berjuang keras untuk mempertahankan hidup.

Saat seorang anak Sumba lahir, kuda juga digunakan sebagai alat budaya dalam ritual-ritual budaya.

Bahkan saat meninggal pun kuda dipakai sebagai bagian dari ritual menghantar jenazah ke pemakaman karena masyarakat Sumba percaya bahwa kuda adalah alat tunggang bagi arwah yang sudah meninggal menuju kehidupan abadi.

Umbu Kadebu Tagobori masyarakat Desa Dewajara, Kabupaten Sumba Tengah mengaku mempunyai kurang lebih 10 ekor kuda, baik jantan maupun betina.

Kuda-kuda itu tidak pernah habis walaupun sering digunakan untuk mas kawin atau digunakan dalam kegiatan adat, sebab selalu ada yang lahir kembali jika ada yang dilepas pergi.

Baginya kuda diyakini sebagai simbol harga diri, simbol martabat, dan simbol kehidupan orang Sumba.

“Jadi jika ada orang di desa asli yang tidak memiliki kuda, hal itu akan menjadi bahan pembicaraan di tengah masyarakat,” tuturnya.

Maka tidak heran jika saat berkunjung ke pulau Sumba terlihat kuda ada di mana-mana. Harga diri orang Sumba dan status sosialnya diukur dari semakin banyaknya kuda yang dimiliki.

1
2
3
SHARE