Masjid Jogokariyan, Melayani dengan Spirit Saldo Nol Rupiah

287

Efekgila.com – Udara malam masih membalut sepanjang Jl. Jogokariyan, Mantrijeron, Yogyakarta, saat adzan subuh berkumandang, Jumat (12/5.2017).

Dari sela gang-gang di ruas jalan tersebut, beberapa warga bergegas menuju arah suara sang muadzin. Laki-laki, perempuan, tua, muda, bahkan anak-anak, semua menuju arah yang sama: Masjid Jogokariyan.

Dibangun pada bulan September 1966 oleh sekelompok warga kampung sekitar, masjid yang awalnya sederhana itu dalam beberapa tahun terakhir jadi tujuan umat Islam yang berkunjung ke Yogya. Ada yang mampir dan sholat di situ karena penasaran, wisata religi, dan ada pula yang sengaja datang secara khusus untuk melakukan studi banding.

Sehebat apakah masjid dua lantai tersebut hingga mendapat sorotan begitu istimewa dari berbagai kelompok masyarakat Indonesia? Wartawan Efekgila.com, Sigit Nugroho, melaporkan langsung dari Kota Keraton tersebut.

“Menggunakan satu bis, kami sengaja mengirim sekitar 40 jamaah untuk meninjau Masjid Jogokariyan dengan niat melakukan studi banding. Pengelolaannya bisa jadi contoh masjid-masjid lain,” ujar Ustad Edi Fahmi, Ketua DKM Masjid Agung Mujahidin, Tangerang Selatan.

Jamaah Masjid Mujahidin Tangsel, menimba ilmu dari Jogokariyan.
Jamaah Masjid Mujahidin, menimba ilmu dari Jogokariyan.

Niat yang sama juga diutarakan Ruswan Rusli dan Edi Syam, jamaah Masjid At-Taubah, Villa Pamulang, di kesempatan berbeda. Pada saat bersamaan, beberapa pengurus masjid dari berbagai kota juga tengah mendengarkan arahan takmir masjid yang bisa menampung sekitar 2000 jamaah itu.

Lazimnya di Indonesia, jamaah ramai datang ke masjid saat sholat magrib. Pada saat sholat fardhu lain seperti subuh, dzuhur, ashar, dan isya, hanya beberapa shaf (baris) saja yang terisi. Jumlahnya bisa 2-3 baris, atau katakanlah sekitar 5-10 persen dari jumlah jamaah sholat magrib. Prosentase makin njomplang jika dibandingkan dengan jumlah jamaah sholat Jumat.

Nah, di sinlah keunikan Masjid Jogokariyan. Jumlah jamaah sholat subuh di sana luar biasa. Dua kali wartawan Efekgila.com mengikuti sholat subuh di bulan berbeda (hari biasa). Nyatanya, jamaah subuh memenuhi masjid. Shaf khusus pria maupun wanita (terpisah), terisi penuh.

Bagamana cara mengumpulkan jamaah untuk memenuhi shaf-shaf sholat subuh? Butuh usaha, memang. “Kami menggunakan database warga, sekitar 4000 warga dari 4 RW dan 18 RT. Mereka yang belum biasa sholat subuh berjamaah di masjid, dibimbing dan diberi undangan,” ujar Enggar Haryo Panggalih, Takmir Masjid Jogokariyan.

Upaya penuh kesabaran itu membuahkan hasil. ”Rekornya, berhasil mengajak 857 warga jadi jamaah sholat subuh tetap. Ini yang akan kami ikuti. Jika jamaah sholat subuh awalnya 100 orang, semoga nanti bisa jadi 300-500 orang. Ada juga keinginan menjadikan masjid kami jadi pusat kegiatan umat, masjid yang mandiri serta modern,” tutur Muhammad Habil, Ketua Rombongan Masjid Mujahidin, Tangsel.

Dari cerita takmir, bisa disimpulkan bahwa pengelola masjid telah berhasil mengubah mindset bahwa pengurus masjid adalah pelayan masjid. Terlebih bila berbicara saldo kas. Mereka menyebut pengelolaan dana sebagai “zero saldo” alias saldo nol rupiah. Bukan jumlahnya yang nol, namun spiritnya.

“Di sini kita melihat pengurus masjid sebagai pelayan, bukan penguasa masjid. Seluruh infaq dan sekedah disalurkan habis, sesuai peruntukannya. Semua untuk umat dan teraudit dengan baik,” komentar Ruli Perdana, seorang MC alias pembawa acara asal Surabaya yang berkunjung pada saat bersamaan.

Tak heran jika di Masjid Jogokariyan tersedia berbagai kotak amal dengan peruntukan berbeda-beda. Ada untuk pembangunan masjid, opersional, infak takjil (kuliner), sedekah beras, bahkan untuk bantuan korban di Suriah dan Palestina.

Kotak amal, sesuai peruntukan. (Foto: Sigit/Efekgila.com)
Kotak amal, dipisahkan sesuai peruntukannya.

Ekonomi warga/jamaah juga diperhatikan. Selain pelatihan, mereka mendapat pinjaman dana tanpa bunga, bahkan bisa dibebaskjan jika tak mampu. Pengobatan gratis pun disediakan oleh dokter-dokter relawan. “Obatnya juga gratis, cukup dengan menunjukan Kartu Jamaah Aktif Subuh. Dananya dari infaq sholat subuh. Alhamdulillah selalu cukup,” imbuh Enggar.

Pengelolaan dana yang transparan membuat tingkat kepercayaan donatur jadi tinggi. Tahun lalu, tiap hari masjid itu menyiakan 1500 piring untuk berbuka puasa. Estimasi kebutuhan dana selama Ramadhan sekitar Rp 129 juta. Tahu dana terkumpul? Rp 300 juta lebih! Kelebihannya lalu disalurkan ke masjid atau mushola binaan, sampai habis. Ya, sesuai peruntukannya.

Pengurus menerapkan manajemen modern dan pintu terbuka dalam arti seluasnya. Terbuka bagi pihak yang ingin belajar, juga terbuka bagi jamaah yang ingin sholat. Selama ini banyak masjid yang langsung mengunci pintu begitu sholat selesai. Rata-rata takut ada barang hilang. Di sini, bahkan sandal jamaah hilang pun langsung diganti baru.

Dengan banyak nilai plus, menurut sebuah sumber Jogokariyan dinilai sebagai masjid dengan manajemen terbaik ketiga di Indonesia setelah Masjid Sunda Kelapa dan Masjid Istiqlal. Penghargaan Masjid Besar Percontohan Nasional oleh Kemenag RI juga mereka terima pada 2016.

Tak berlebihan, apalagi jika melihat visinya sebagai pusat kegiatan masyaraat, tempat rekreasi rohani, rujukan berbagai persoalan warga, sekaligus sebagai pesantren dan kampus masyarakat.

Mereka ingin mewujudkan masyarakat sejahtera lahir batin, melalui kegiatan kemasyarakatan yang berpusat di masjid. Masalah keseharian hingga bangsa, dikupas habis. Ceramah Gubernur NTB, Tuanku Guru Bajang contohnya, disesaki jamaah yang antusias.

Tuanku Guru Bajang, sikapi antusiasme jamaah.
Tuanku Guru Bajang, sikapi antusiasme jamaah.

Dengan 30 divisi kerja, dipastikan semua kegiatan jalan dengan rapi. Tak terkecuali kegiatan jamaah dewasa, remaja, hingga anak-anak. Luar biasa. (*)

Berikut foto-foto liputan Jogokariyan.

IMG_20170512_123814_1495100137186
Suasana makan siang berjamaah, seusai sholat Jum’at.
IMG-20170518-WA0007
Mejeng di aula masjid, standar bagi jamaah luar kota.

 

IMG_20170512_103545_1494570049227
Pintu masjid selalu terbuka selama 24 jam bagi jamaah.