Pembangunan awal Mushola Al Kibing, hasil patungan warga. (Foto: Sigit Nugroho/Efekgila.com)

Efekgila.com – Ternyata bukan cuma di pelosok Indonesia saja membangun rumah ibadah jadi barang mewah. Setidaknya, inilah yang dialami warga RT 09/RW 11 Kampung Setu Kibing, Kelurahan Pabuaran, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. Di sana bahkan belum pernah ada sholat berjamaah sejak lebih dari 37 tahun lalu.

Begitulah pengakuan Muhidin, salah satu warga yang datang pertama kali ke kampung itu. “Saya disini sejak 37 tahun lalu. Belum pernah ada sholat berjamaah bagi warga. Mau sholat dimana?” ujar Muhidin kepada Sigit Nugroho dari Efekgila.com.

kibing 5 - warga

Lokasi kampung yang kini dihuni 354 jiwa dari 120 kepala keluarga itu dulu sempat dikenal rawan. Beberapa warga dilabeli sebagai orang yang “kurang baik” sehingga menimbulkan kesan seram jika memasuki lingkungan itu. Apalagi lokasinya menempel di sebuah setu yang kurang terawat, dasarnya dangkal karena timbunan lumpur.

Sungguh kontras dengan lingkungan yang menempel di sebelahnya yang menjorok ke jalan utama. Di sana warga dari strata ekonomi menengah ke atas, tinggal di sebuah Perumahan Puri Nirwana 1 yang bersih dan relatif sehat.

“Namun kami bersyukur masih punya tempat tinggal. Juga, entah kenapa, tiba-tiba bulan Ramadhan lalu warga beramai-ramai ingin mendirikan sholat tarawih berjamaah. Padahal kami tak punya tempat ibadah, hanya ada balai warga sederhana. Maka, lahirlah ide membuat mushola,” lanjut Muhidin yang jadi Ketua Panitia pembangunannya.

kibing 4 - balai warga

Shaf wanita ditempatkan di balai warga, sementara laki-laki di jalanan gang. Imam sholat tarawih? Ada di depan pintu rumah sebab posisinya pas.

“Kisah lucu pun terjadi saat khusu menjalankan sholat. Karena di luar, kejadian unik tak terhindarkan. Ketika Ustad Margani Nasir sedang memimpin sholat, dua ekor kucing berkelahi, tepat di kaki beliau! Geli, tapi kasihan. Begitulah suka-duka warga tanpa mushola,” komentar Brian Wiryawan, Ketua RT setempat.

Warga yang rata-rata bekerja serabutan dan tak punya penghasilan tetap, akhirnya berpatungan. Dari rencana anggaran sekitar Rp 50 juta, terkumpul Rp 10 juta. Pembangunan pun dimulai. Lumayan, pondasi dasar dan “kepala” mushola untuk imam, telah jadi. Atap, lantai, dinding, dan pekerjaan finishing lainnya, masih menanti dana lanjutan.

“Kami akan tetap berpatungan, semampunya. Bantuan pihak-pihak yang peduli tentu sangat dinantikan. Kami ingin sholat berjamaah setiap hari seperti warga lain. Tak harus jalan jauh. Kalau hujan, tentu bermasalah sebab dekat setu,” imbuh Bukhori, bendahara pembangunan mushola, yang bekerja mencari kardus bekas selain jadi OB di RS Trimitra.

kibing 2

Kenapa mushola begitu penting? Ternyata ada tujuan mulia di balik itu. “Agar warga tidak hidup individual, sering berkumpul, terlebih bagi pemuda juga anak-anak. Agar mereka punya akhlak lebih baik dan tak terbawa arus kehidupan negatif di luar lingkungan,” ujar Brian.

Jelas butuh dukungan semua pihak. Baik dari mereka yang peduli, juga utamanya aparat pemerintah yang menaungi wilayah tersebut. (*)

Partisipasi bisa menghubungi: Bp. Brian (081333037776) atau Bp. Sigit (081906072373)

kibing 6 - anak

warga makan

kibing 1