Editorial

Menuntut Ketegasan Pemerintah Terhadap Mafia Haji

SEBANYAK 177 calon haji (calhaj) asal Indonesia ditahan petugas berwenang Filipina di Bandara Manila sesaat sebelum menaiki pesawat yang akan membawa mereka ke Saudi Arabia, 19 Agustus lalu. Kontan, berita ini membuat heboh lantaran jumlah calon haji tersebut terbilang banyak. Lebih mengejutkan lagi, mereka menggunakan paspor Filipina dan bergabung dengan calon haji dari negara tetangga itu.

Ke-177 WNI calon haji tersebut masing-masing berasal dari Sulawesi sebanyak 70 orang, 17 orang dari Tangerang (Banten), 11 orang dari Jawa Tengah, 8 orang dari Jawa Timur, 9 orang dari Kalimantan Utara, 4 orang dari Jawa Barat, 2 orang dari Yogyakarta, Jambi, dan Kalimantan Timur, 9 orang dari Jakarta, dan satu orang dari Riau.

Menurut pihak imigrasi Filipina, selain ke-177 WNI, ditangkap pula lima orang warga Filipina yang bertindak sebagai pengawal. Mereka diduga sebagai orang yang memberikan paspor Filipina kepada para WNI tersebut. Terbongkarnya keberangkatan calon haji ilegal asal Indonesia itu diketahui setelah mereka tidak bisa berbahasa Tagalog, bahasa nasional Filipina.

Bisa ditebak,  ke-177 calon haji asal Indonesia itu adalah korban sindikat penipuan. Sebuah aksi penipuan yang sangat terorganisir antara pihak-pihak yang ada di Indonesia dan Filipina. Mereka begitu lihai memainkan perannya sampai mampu membuatkan paspor Filipina dan bisa masuk dalam daftar kuota haji Filipina.

Bisnis haji memang sangat menggiurkan. Di tengah tingginya daftar antrean untuk bisa berangkat ke Tanah Suci plus masa tunggu yang terbilang lama, rupanya telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Pertanyaannya adalah, bagaimana bisa ke-177 WNI itu sampai bisa menunaikan ibadah haji dari Filipina? Dengan mendapatkan kuota dan paspor Filipina dan sudah berhasil masuk ke bandara Manila dan bersiap berangkat ke Arab Saudi, sulit rasanya untuk mengatakan tidak ada bantuan dan permainan anggota sindikat mafia haji.

Apalagi kemudian terungkap banyak pernyataan yang menyebutkan bahwa paraktik-praktik seperti itu sudah sering terjadi. Mengutip pernyataan pihak berwajib Filipina, tahun-tahun sebelumnya cukup banyak WNI yang berhaji menggunakan dokumen ilegal. Mereka memanfaatkan jasa mafia haji.

Para korban sindikat ini pastilah tidak tahu bagaimana para sindikat mafia haji itu bekerja. Buat para calon haji ilegal ini yang penting adalah bagaimana mereka bisa sampai ke Tanah Suci dengan selamat. Sangat disayangkan, niat suci mereka harus kandas di tengah jalan. Bukan untung yang diraih, tapi malang yang didapat. Mereka pun harus berurusan panjang dengan pemerintah Filipina.

Pastinya bukan hanya uang yang hilang. Lebih dari itu, harga diri dan niat suci mereka juga sirna. Di sisi lain pihak penyelenggara yang memberangkatkannya kabur tanpa tanggung jawab. Beruntung polisi segera turun tangan. Setidaknya sejumlah orang sudah diperiksa dan ditahan.

Kejadian yang menimpa saudara-sudara kita ini tentunya harus menjadi perhatian serius pemerintah. Ibadah haji adalah kegiatan rutin yang selalu dijalankan setiap tahunnya. Kita tahu bahwa untuk bisa berangkat ke sana, kuota yang diberikan pemerintah Arab Saudi kepada Indonesia sangat terbatas.

Karena itu tidak heran jika daftar tunggunya sangat panjang bisa mencapai 10 sampai 15 tahun. Bahkan ada daerah yang antreannya mencapai waktu 20 tahun. Kuota haji untuk Indonesia kendati terbesar di dunia yaitu 168.800 jamaah, namun jumlah daftar tunggu (waiting list) mencapai 3,2 juta orang.

Para sindikat mafia haji tentulah lihai memanfaatkan celah ini. Memanfaatkan hasrat kuat masyarakat muslim Indonesia yang tidak sabar para sindikat ini bekerja dengan sangat rapi. Beragam iming-iming mereka berikan hingga cukup banyak masyarakat yang akhirnya tertipu.

Memang, masih banyak masyarakat kita yang mudah tergiur ketika ada tawaran berhaji walau dengan cara yang tidak biasa. Namun, itu bisa terjadi karena ketidaktahuan mereka bagaimana sebenarnya mengurus permohonan naik haji.

Berangkat haji adalah persoalan ibadah. Buat masyarakat muslim Indonesia berhaji adalah kewajiban dalam Rukun Islam. Karena niatnya ibadah ke rumah Allah, tidak sedikit para calon haji yang bersikap pasrah dan terus menjaga kesabarannya walaupun sudah jelas mereka menjadi korban penipuan.

Sosialisasi yang gencar harus terus dilakukan pemerintah, utamanya Kementerian Agama RI. Pemerintah pun harus tegas terhadap biro-biro perjalanan haji yang tidak jelas keberadaannya, namun berani menawarkan program ibadah haji kepada masyarakat.

Sanksi keras harus diberikan kepada mereka yang nyata-nyata terbukti nakal. Menyeret para pelaku sindikat mafia haji ke penjara menjadi tugas penting lainnya dari pemerintah. Ini harus dilakukan untuk membuat efek jera agar kasus serupa tak terjadi lagi di kemudian hari.

Departemen Redaksi

Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi :
Sigit Nugroho
Redaksi :
1. Hanif Marjuni
2. Kesit B. Handoyo
3. Permadi
4. Bakhtiar Majid
Desain Grafis :
1. Agus R
2. Christian AJ
Spesialis Sosial Media :
Bobi Arianto

Dari Redaksi

Membantu Keluarga Ibu Inspiratif di Cinere

Beberapa hari terakhir, redaksi EfekGila memang tengah menyiapkan bantuan untuk wanita yang inspiratif, sesuai slogan: Media Inspirasi Indonesia. Targetnya, untuk menyambut Hari Ibu 22...

Pekan Sibuk di Workshop Kemenpora dan “Bandung Lautan Bola”

Selama dua hari, 25-26 Novermber, dua kru Efekgila.com menghadiri Workshop yang digelar Kemenpora di Hotel Twin Plaza, Jakarta. Duet Pemimpin Redaksi dan redaktur, Sigit...

Liputan Langsung dari Markas Sheila on 7

Peluncuran efekgila.com ditandai dengan banyak hal luar biasa. Bendera start media online yang berpayung pada Efek Gila Media ini, bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10...

Tentang Kami

logo_efekGila-3D-1068x668
Efekgila.com adalah media inspirasi Indonesia. Redaksi menyajikan konten beragam, yang diangkat dari berbagai aspek kehidupan. Artikel, video, dan konten lain, disajikan secara aktual. Materi lain ditayangkan karena unik, gila, namun inspiratif.

Alamat Redaksi

3957521_20120514120048
Central Park, APL Tower 18th Fl. Suite #2
Jalan Letjen S. Parman Kav. 28,Grogol – Jakarta Barat 11470
Phone: (021) 2903 4333 (Hunting),Fax: (021) 2903 4260
Email: [email protected]