7 wna yang hidupnya untuk indonesia
Deretan WNA yang Hidupnya Untuk Indonesia (Source image : hipwee.com)

7 WNA yang Hidupnya Untuk Indonesia

Mereka bukanlah artis atau tokoh yang terkenal. Mereka hanyalah Warga Negara Asing (WNA). Tapi mereka sangat cinta dan bangga terhadap Indonesia. Bahkan, kepedulian dan kecintaannya, melebihi penduduk pribumi.

Mereka pun berjuang agar Indonesia dapat menjadi negara yang nyaman, bersih, dan damai. Orang-orang pendatang itu juga berharap masyarakat Indonesia bisa memiliki kehidupan yang lebih baik.

Berikut 7 warga negara asing yang mengabadikan hidupnya untuk Indonesia.

1. Andre Graff

Pria kelahiran Prancis ini mendapatkan julukan ‘Andre Sumur’ oleh masyarakat di daerah tempat tinggalnya, Lamboya, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Julukan itu bukan tanpa sebab. Andre dinilai andil besar dalam menggali sumur untuk kebutuhan air masyarakat Sumba.

Pada awalnya, Andre merupakan seorang pilot balon udara yang sering berpergian mengantar turis ke berbagai tempat wisata. Pada tahun 2005, ia berwisata di Sumba. Ketika itu ia merasa prihatin dengan keadaan masyarakat Sumba yang kesulitan air bersih. Patut diketahui, untuk mendapatkan air yang layak diminum saja, penduduk harus berjalan sejauh 2 kilometer. Itu pun diambil dari air sumur di daratan rendah.

Andre pun tergerak hatinya. Ia membantu masyarakat Sumba dengan membuat sumur. Pria berkacamata itu juga mengajari mereka bagaimana cara menggali tanah dan membuat beton agar air tidak bercampur dengan lumpur.Salut!

2. Aurelien Francis Brule

Satu lagi warga negara Prancis yang peduli terhadap Indonesia. Namanya Aurelien Francis Brule. Ia sangat perhatian pada kelangsungan hidup primata Indonesia.

Ketika masih berumur 16 tahun, Brule sudah mengabadikan hidupnya untuk merawat owa-owa, salah satu jenis primata di Kalimantan dan Sumatera. Kecintaan dia terhadap owa-owa muncul saat berumur 12 tahun. Waktu itu dia diajak oleh keluarganya mengunjungi kebun binatang di Prancis. Raut muka sedih dan perilaku menyendiri hewan tersebut ternyata menarik perhatiannya.

Baca Juga  Inilah 7 Alasan dan Jenis Perkawinan Sesuku Yang Dilarang di Minangkabau

Pada 1998, Brule memutuskan untuk pergi ke Indonesia. Ia menilai Indonesia memiliki banyak jenis owa-owa sekaligus beragam persoalannya. Berbagai hal dilakukan Brule agar mendapatkan izin penggunaan hutan sebagai kawasan konservasi owa-owa. Contohnya membuat stasiun radio lokal yang diberi nama Radio Kalaweit. Tujuan pembuatan radio itu untuk mengajak generasi muda mau menyelamatkan hutan dan satwa liar di Indonesia.

3. Robin Lim

Robin Lim, wanita asal Amerika Serikat (AS) yang menetap di Bali. Ia seorang bidan yang sangat berjasa bagi keluarga tidak mampu di Pulau Dewata. Pada tahun 1995, Lim mendirikan sebuah yayasan klinik kesehatan bernama Bumi Sehat Foundation di Bali.

Melalui yayasan itulah, seluruh bantuan pada proses kehamilan diberikan Robin secara gratis. Hebatnya lagi, dia tidak membeda-bedakan pelayanan yang diberikan ke pasien.Semua diperlakukan sama. Penuh dengan kebaikan, hormat, dan rasa sayang.

Selain bergerak di bidang kesehatan, dia juga mendirikan Pusat Pemuda. Lokasinya di Ubud. Itu merupakan tempat atau perkumpulan untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan generasi muda Bali khusus dalam bidang bahasa inggris dan komputer. Peserta tanpa dipungut biaya! Berkat segala dedikasi dan pengabdiannya, Robin Lim pernah mendapatkan berbagai gelar kemanusiaan, salah satunya adalah Hero 2011 oleh CNN.

4. Elizabeth Karen

Budaya tradisional khas Jawa berupa Sinden rupanya sangat menarik perhatian Elizabeth Karen. Dalam pengakuannya, wanita asal AS itu suka menyanyi dan menari sejak kecil. Namun, ketika mendengar lagu-lagu dari Jawa, ia merasa ayem.

Hal itulah yang membuat dia ingin menekuni lebih dalam lagi mengenai seni budaya sinden. Ia beberapa kali ikut nyinden bersama dalang-dalang tenar. Kini, julukan sinden bule sudah menjadi identitas Elizabeth.

Baca Juga  7 Orang yang Tenar karena Dubsmash

Kecintaannya terhadap budaya jawa membuat dia juga menambahkan nama ‘Sekararum’ di belakang namanya menjadi ‘Elizabeth Karen Sekararum’. Karen mengaku sedih terhadap generasi muda Jawa yang cenderung mengabaikan dan anti terhadap irama warisan nenek moyang tersebut.

5. Carlon Ferrandiz

Carlos Ferrandiz merupakan seorang warga Spanyol. Tapi ia sangat mencintai Indonesia. Kisah itu bermula karena kekagumannya pada keindahan pantai Indonesia. Ia memutuskan untuk menetap di Sumbawa.

Setelah lama tinggal di Sumbawa, Ferrandiz merasa kualitas pendidikan di daerah Sumbawa sungguh memprihatinkan. Karena itu, ia ingin berbuat sesuatu agar pendidikan Sumbawa bisa lebih baik. Caranya, mendirikan Harapan Project. Itu program pendidikan khusus untuk anak-anak Sumbawa.

Sehari-hari, dia bersama sukarelawan membagikan perlengkapan sekolah dan mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan secara gratis.

6. Gavin Birch

Pada tahun 1984, Gavin Birch pergi liburan ke Lombok. Hal itu dia lakukan karena kecintaannya terhadap alam Indonesia. Kepedulian warga negara Selandia Baru ini terhadap Indonesia tumbuh ketika melihat banyaknya sampah yang menutupi keindahan pantai Senggigi di Lombok. Sedih dengan keadaan seperti itu, Gavin pun menetap di Lombok. Dengan suka rela, ia membersihkan dan mengumpulkan sampah yang berserakan di tempat tersebut.

Di luar membersihkan sampah, ada kegiatan positif lain yang ia lakukan. Yakni membangun toilet bagi warga yang kala waktu itu belum memilikinya. Birch meninggal pada tahun 2010. Perjuangan mulia dia dilanjutkan oleh anaknya, Abdul Aziz Husin, hasil pernikahannya dengan Siti Hawa di Lombok.

7. Annette Horschmann

Annette Horschmann berasal dari Jerman. Pada tahun 1993, ia penasaran dengan keindahan Danau Toba. Hal itulah yang membuat dia datang ke Indonesia. Namun, ia merasa cemas dengan danau yang tersohor tersebut. Menurut dia, keindahannya terganggu oleh banyaknya sampah yang berserakan.

Baca Juga  Jogja Bay, Wahana Air Bertema Bajak Laut

Gayung bersambut. Horschmann bersama temannya bekerja sama membersihkan Danau Toba dari sampah dan enceng gondok. Tak hanya itu. Horschmann juga mendalami bahasa batak sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Khusus yang satu ini, ia pelajari karena berharap bisa berkomunikasi dengan masyarakat setempat. Tujuannya jelas, agar masyarakat mau membantu aksinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *